TIMES NATUNA, DEPOK – Di tengah padatnya arus lalu lintas dan ritme cepat kehidupan Kota Depok, sebuah warung kuliner kecil di pinggir jalan kawasan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, justru terus hidup dan berkembang.
Warung Bumi Sunda, yang berdiri sejak 2009, menjadi bukti bahwa usaha kuliner sederhana masih memiliki daya tahan kuat di tengah gempuran restoran modern dan waralaba besar.
Warung ini dikelola oleh Dino (58) bersama sang istri, Tutiah (42). Berawal dari kegemarannya menyantap makanan di warung pinggir jalan, Dino tak pernah menyangka bahwa kebiasaan sederhana itu akan mengantarkannya pada usaha kuliner yang bertahan lebih dari satu dekade.
Ide mendirikan Warung Bumi Sunda muncul secara tak terduga, ketika dalam sebuah kesempatan, utang seorang teman dibayar dengan sebuah warung. Dari situ, Dino melihat peluang dan mulai menata usaha kuliner dengan konsep yang membumi.
“Saya ingin orang yang makan di sini merasa santai, seperti di rumah sendiri. Makanya saya pilih konsep prasmanan,” ujar Dino, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, konsep tersebut memberi kebebasan bagi pelanggan untuk memilih menu sesuai selera dan porsi, sekaligus menciptakan suasana yang akrab dan tidak kaku.
Cita Rasa Sunda, Harga Terjangkau
Beragam masakan khas Sunda tersaji setiap hari di Warung Bumi Sunda. (FOTO: Mutakim/TIMESIndonesia).
Beragam masakan khas Sunda tersaji setiap hari. Mulai dari pepes tahu, pepes ikan, pepes jamur, tumis oncom, oseng kangkung, sayur asem, hingga sambal terasi dan sambal dadak.
Aneka olahan ikan juga menjadi andalan, seperti gurame goreng atau bakar, lele goreng, ikan mas goreng, hingga pindang ikan. Lalapan segar seperti timun, kol, kemangi, dan terong rebus melengkapi menu yang tersaji.
Kekuatan rasa menjadi daya tarik utama warung ini, membuatnya tetap relevan di tengah selera pasar yang terus berubah.
Dari sisi harga, Warung Bumi Sunda tergolong sangat terjangkau. Menu makanan dibanderol mulai dari Rp12.000-an, menjadikannya pilihan favorit bagi berbagai kalangan, mulai dari pekerja, mahasiswa, hingga warga sekitar.
Harga yang ramah di kantong tersebut membuat warung ini nyaris tak pernah sepi pembeli, terutama pada jam makan siang. “Yang penting bisa makan enak tanpa mahal,” kata Dino, pria kelahiran Sukabumi tersebut.
Dengan tingkat kunjungan yang stabil, dalam satu bulan Warung Bumi Sunda mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah.
Capaian tersebut menjadi gambaran bagaimana usaha kecil berbasis kuliner lokal masih memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan jika dikelola secara konsisten.
Perjuangan UMKM di Tengah Bisnis Modern
Persaingan dengan restoran modern bukan tanpa tantangan. Dino mengakui, kehadiran restoran berkonsep kekinian dan layanan cepat saji membuat persaingan semakin ketat. Namun, konsistensi rasa, kesederhanaan, dan hubungan personal dengan pelanggan menjadi kekuatan yang tak tergantikan.
Tak hanya mengandalkan pelanggan datang langsung, Warung Bumi Sunda juga telah beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Saat ini, warung tersebut sudah tersedia di berbagai platform pemesanan makanan online, memperluas jangkauan pasar sekaligus menjawab kebutuhan konsumen perkotaan yang mengutamakan kepraktisan.
Di kawasan Cilodong sendiri, Warung Bumi Sunda dikenal sebagai warung legendaris karena menjadi salah satu yang pertama mengusung konsep prasmanan di tengah kesibukan Kota Depok.
Lebih dari sekadar tempat makan, warung ini menjadi contoh bagaimana UMKM kuliner mampu bertahan, beradaptasi, dan berkontribusi pada perputaran ekonomi lokal. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Warung Bumi Sunda Depok, Sajikan Prasmanan Khas Sunda dengan Harga Terjangkau
| Pewarta | : Mutakim |
| Editor | : Ronny Wicaksono |