TIMES NATUNA, JAKARTA – Duel puncak Piala Liga Inggris musim ini menghadirkan skenario yang nyaris sempurna: dua tim teratas Liga Inggris saling berhadapan. Manchester City akan menantang Arsenal di partai final yang digelar di Stadion Wembley pada 22 Maret mendatang. Bagi kedua tim, laga ini bukan hanya soal trofi, tetapi juga pertarungan mental dalam perburuan gelar liga.
Manchester City memastikan tiket final usai menyingkirkan Newcastle United dengan agregat meyakinkan 5-1. Kemenangan 3-1 di leg kedua semifinal, Rabu waktu setempat atau Kamis (5/2/2026), menegaskan dominasi tim asuhan Pep Guardiola. Dua gol Omar Marmoush dan satu tambahan dari Tijjani Reijnders membuat keunggulan City nyaris tak terkejar sejak babak pertama.
Arsenal, di sisi lain, melangkah ke final setelah menundukkan Chelsea 1-0 pada leg kedua, memastikan agregat 4-2. Konsistensi The Gunners di berbagai kompetisi musim ini menguatkan status mereka sebagai pemimpin klasemen Liga Inggris, unggul enam poin dari City.
Final Piala Liga menjadi peluang bagi kedua tim untuk meraih trofi mayor pertama musim ini. Lebih dari itu, kemenangan di Wembley berpotensi memberi efek psikologis besar dalam persaingan gelar domestik. Saat ini, baik City maupun Arsenal masih bertahan di Liga Champions dan Piala FA, membuka peluang menyapu bersih trofi.
“Kami berada di sini untuk memenangkan trofi. Setiap hari kami bekerja untuk mencapai final dan membawa pulang gelar,” ujar Omar Marmoush, penyerang City yang mencetak dua gol ke gawang Newcastle, seperti dikutip dari Sky Sports.
Guardiola pun tak menyembunyikan respek kepada calon lawannya. Pelatih asal Spanyol itu menyebut Arsenal sebagai salah satu tim terbaik saat ini.
“Bermain melawan Arsenal adalah sebuah kesenangan. Mereka mungkin yang terbaik di Eropa, bahkan dunia. Setiap kali menghadapi mereka, kami menjadi tim yang lebih baik,” kata Pep Guardiola.
Pertemuan ini melanjutkan rivalitas yang kian mengeras dalam beberapa musim terakhir.
Manchester City dua kali merebut gelar Liga Inggris dari tangan Arsenal pada 2023 dan 2024, meski The Gunners sempat memimpin klasemen. Musim ini, Arsenal kembali berada di posisi terdepan dan memburu gelar liga pertama sejak 2004.
Bagi Mikel Arteta, Piala Liga bisa menjadi trofi mayor keduanya bersama Arsenal setelah Piala FA 2020. Mantan asisten Guardiola itu juga berpeluang meraih kemenangan simbolik atas mantan mentornya di panggung final.
Sementara bagi Guardiola, laga ini membuka kesempatan meraih trofi mayor ke-16 bersama City sejak 2016, sekaligus Piala Liga kelima dalam kariernya di klub tersebut.
Manchester City mengincar gelar Piala Liga kesembilan, mendekati rekor Liverpool yang telah mengoleksi 10 trofi. Arsenal baru dua kali menjuarai kompetisi ini, terakhir pada 1993.
Final tahun ini juga mengulang edisi 2018, ketika Manchester City keluar sebagai juara dan Arteta masih menjadi bagian staf kepelatihan Guardiola.
Dengan latar belakang rivalitas, ambisi sejarah, dan posisi strategis di musim yang masih panjang, final Piala Liga ini menjanjikan lebih dari sekadar pertandingan penentuan juara. Wembley akan menjadi panggung ujian karakter dua kekuatan terbesar sepak bola Inggris saat ini. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Man City vs Arsenal di Final Piala Liga: Ujian Mental Dua Raksasa Inggris
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |